Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 222

Chapter 222: Kuil para Dewa

Aku berlebihan melakukannya, tapi aku tidak menyesalinya.

Itu adalah frasa yang biasa ada di koran atau majalah mingguan.

Tapi tidak kusangka aku akan menggunakan frasa itu saat aku berada di dunia lain.

Sekarang kalau dipikir-pikir lagi saat Samal dipanggil, ada cara yang lebih menguntungkan dalam menanganinya.

Menimbang untung dan ruginya, Aku malah memilih cara yang tidak menguntungkan.

Samal kembali ke wujud alat aslinya, dan sekarang berada di laboratorium Shiki.

Kita perlu meneliti banyak hal agar dapat memanfaatkan kekuatan alat itu, dan itu akan membutuhkan waktu dan tenaga.

Intinya, Aku sudah membuang kesempatanku untuk mendapatkan cara cepat untuk kembali ke Jepang.

"...Tapi yah..." (Makoto)

Melihat kejauhan dari dalam ruang kerjaku, monolog keluar dari mulutku.

Seperti yang kupikirkan, Aku tidak menyesalinya.

Jika memungkinkan, Aku ingin kembali ke Jepang. Itulah yang sebenarnya.

Tapi jika itu berarti aku harus meninggalkan Asora dan semuanya, jawabanku tidak. Selain itu, Aku belum menyelesaikan masalahku dengan Dewi.

Dan harus menanggung penghinaan yang dilemparkan pada orang tuaku untuk kembali? Itu tidak mungkin.

Aku ingin kembali ke rumah, Tapi aku mungkin tidak terlalu terburu-buru.

“Juga, Aku sudah mempelajari kebiasaan dan cara bertindak di dunia ini. Sungguh dunia yang menyebalkan huh... ”(Makoto)

Meski begitu, ada tempat-tempat yang nyaman seperti Asora dan Tsige.

Ruangan ini yang dulunya kosong melompong, sekarang dihiasi oleh banyak hal yang diberikan orang-orang Asora padaku. Aku juga menerima buku-buku yang direkomendasikan oleh Rembrandt-san dan perwakilan Zara, dan juga dari rekan guruku. Sekarang, bahkan ruangan ini terasa agak sempit.

Bahkan jika itu adalah dunia yang diperintah oleh Dewi itu, itu tidak berarti aku harus membenci segalanya.

Secara keseluruhan... Aku suka sekitar 5% nya.

Yap, Bukan 50%, tapi 5%, jadi itu tidak mengubah pendapatku bahwa aku membenci hampir semua hal.

"Fuh~. Sekarang aku memikirkannya, di Jepang, hampir musim untuk plum. Ketika itu berlalu, itu akan menjadi musim untuk bunga sakura. Kupikir melihat bunga sakura adalah hal yang akan membuat Tomoe senang. ”(Makoto)

Bunga Rapum, bunga plum, lalu bunga sakura.

Ketika aku di Jepang, Aku selalu pergi melihat bunga setiap tahunnya di bulan Maret.

Kupikir melihat bunga sakura adalah acara utama di musim semi.

Tetapi di tempat-tempat terkenal untuk bunga sakura, biasanya banyak gerobak makanan yang berjejer dan menjadi lebih mirip seperti sebuah festival.

Itu sebabnya, bahkan jika penglihatanku mengingat bunga sakura yang mekar sepenuhnya, dalam hal indera penciumanku, itu bukan aroma bunga sakura, melainkan bau makanan yang digoreng atau dibakar serta bau alkohol.


Terutama di hari libur dan malam hari.

Melihat bunga sakura ya.

Andai bunga sakura ada di Asora juga.

Ketika Aku melihat sekeliling, Aku dapat melihat bahwa ada banyak ceri gunung, bunga sakura Kawazu, dan ceri pagi.

Aku terbiasa melihat weeping ceri dan pohon ceri Yoshino. <Omg, aku tidak tahu ada banyak variasi.>

Hal-hal seperti buah-buahan dan sayuran yang jelas bukan jenis yang tumbuh di alam liar, tumbuh secara alami di Asora, tetapi mengenai bunga sakura aku belum melihatnya, mungkinkah mereka adalah jenis tumbuhan hortikultura.

Kemungkinannya tidak nol. Salah satu yang memiliki nilai tertinggi untuk dilihat adalah pohon ceri Yoshino, jadi bukan ide yang buruk untuk mencarinya.

Aku pribadi ingin melihat ceri gunung dan weeping ceri, tetapi untuk acara melihat bunga sakura, akan lebih baik jika yang pertama kali kita lihat adalah yang berwarna merah muda dan benar-benar mekar.

Tetapi tidak seperti kita menanam bunga sakura untuk dilihat.

Sebuah tempat di mana kita dapat menghargai bunga sakura dan tumbuh ya.

Apakah ada satu?

Jika ini adalah gunung, Aku bisa bertanya pada hewan di gunung jika mereka tahu.

Baik.

Semakin cepat semakin baik. Ayo coba cari sekarang.

"Akan lebih baik jika berada di tempat yang bagus di pegunungan... eh?" (Makoto)

Asora telah... diperluas.

Aku belum melakukan apapun.

Ada banyak kasus ketika Asora mengembang dengan bereaksi terhadap kekuatan sihirku.

Mereka kebanyakan terjadi ketika Aku sedang tidur.

Dalam hal ini, kali ini karena... aku mengalahkan Samal?

Aku menggunakan cukup banyak kekuatan sihir dan Aku mencoba memanggil lengan sihir.

Aku agak marah, tapi... dalam hal kekuatan sihir, ada sejumlah kemungkinan yang bisa aku pikirkan.

“Tapi ini agak aneh. Aku merasa skalanya cukup besar. ”(Makoto)

Ekspansi kali ini lebih besar dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Tanah yang kami gunakan di Asora sebanding dengan berapa banyak tanah yang ada di gurun.

Dengan kata lain, sebagian besar tanah di sini tidak terpakai.

Bahkan jika penduduk di sini telah melampaui ribuan secara keseluruhan, ada juga ras yang hidup di laut.

Ini hanya perkiraanku, tetapi luasnya Asora saat ini mungkin sama dengan bagian dari dunia Dewi.

Tapi kita bahkan tidak punya negara. Yang paling kita miliki adalah dua kota dan beberapa desa.

Kami benar-benar memiliki terlalu banyak untuk dikelola.

Pada awalnya, seolah-olah kami menciptakan sebuah kota di taman miniatur, namun, pada saat Aku perhatikan, taman miniatur telah berubah menjadi padang rumput. Seperti itulah rasanya.

Ekspansi kali ini terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.

Aku menggunakan [Sakai] dan menyelidiki tanah yang telah berkembang.

Tanah baru jelas dibuat di tepi Asora, jadi aku melihat Asora secara keseluruhan.

Ketika [Sakai] terlalu lebar, tidak mungkin menggunakannya untuk memeriksa secara mendetail.

Saat ini, tidak masalah jika Aku dapat mengetahui apakah itu gunung, lembah, dataran, danau, atau laut.

Dengan pengalamanku sebelumnya sebagai referensi, itu mungkin telah meluas 100 kilometer ke segala arah.

Jika itu yang terjadi, ini cukup besar.

“... Oi, Kau bercanda, kan?” (Makoto)

Segera setelah Aku mulai menyelidiki, Aku menemukan sesuatu yang tidak dapat dipercaya.

Aku bisa merasakan wajahku menegang.

Asora sendiri adalah tempat yang tidak masuk akal, tapi seperti yang diharapkan, ini adalah sesuatu yang tidak bisa langsung kupercaya.

Dalam arti, itu sama seperti ketika aku mengetahui tentang laut, atau mungkin aku merasa lebih terkejut dari pada waktu itu.

Ah, sama seperti laut...

Itu berarti…

Satu kemungkinan muncul di dalam pikiranku.

"Waka!!!"

Tepat pada saat itu, Tomoe bergegas masuk ke kamarku tanpa mengetuk.

….Dari jendela.

Yah, Jelas kau tidak akan bisa mengetuk jika kau masuk dari sana ya.

Bagaimanapun, tidak diragukan lagi dia sangat gelisah.

“Tomoe, tolong masuk dengan benar dari pintu masuk. Itu buruk untuk jantungku. "(Makoto)

“Berlari melalui koridor adalah buang-buang waktu! Saat ini, Asora... sekarang... !!” (Tomoe)

"Tenang. Aku mengerti... mungkin." (Makoto)

“W- Waka, kenapa kamu begitu tenang?! Ini sangat penting, kau tahu?!”(Tomoe)

“Bagaimana bilangnya, Aku terkejut, tapi seseorang yang bahkan lebih gelisah dariku datang ke kamarku. Datang dengan 'Bam' seperti yang kau lihat. Yah, ketika laut muncul, itu cukup mengejutkan juga." (Makoto)

Itu juga karena Aku punya gagasan tentang apa yang terjadi.

Tomoe gelisah sampai-sampai itu terlihat lucu.

Itu mungkin karena dia sangat mengenal Asora, dan karena dia tahu banyak tentang sihir ruang, jadi dia berakhir seperti ini.

“Ketika laut muncul, setidaknya Aku bisa mengerti! Tapi kali ini, ini jelas tidak mungkin! Jika pembentukan Asora dimungkinkan oleh Waka dan aku, ini jelas tidak mungkin!!”(Tomoe)

“Yah, kau benar. Hei Tomoe, kesampingkan jika itu adalah fenomena yang bisa kita pahami atau tidak, kau mengerti bahwa ada saat-saat ketika Asora berubah sepenuhnya tanpa kita terlibat di dalamnya, bukan? Seperti saat munculnya laut. "(Makoto)

"Mengenai keajaiban dari Dewa dunia lain itu, yah, ya." (Tomoe)

“Bukankah kali ini sama? Dia mengatakan akan ada lebih banyak lagi. ”(Makoto)

"Waka... tapi..." (Tomoe)

“Ayo segera kita selidiki. Kita seharusnya tidak memaksakan diri memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang terjadi, dan menerimanya sebagai sesuatu yang telah terjadi. Kau lihat, belakangan ini, Aku telah merasakan bahwa ada hal-hal dalam masyarakat yang tidak ada gunanya untuk dipikirkan. ”(Makoto)

Lagipula, Aku merasa menjalani hidup dengan memikirkan kemungkinan dan rasionalitas sepertinya akan melelahkan.

Dalam kasusku, kemungkinan aku dipindahkan ke dunia lain memiliki banyak nol dibelakang koma yang berbaris (0,00000-), namun, sekarang disinilah aku.

"...Apa itu sebuah pencerahan?" (Tomoe)

Tomoe sepertinya terkesan, dan pada saat yang sama, sepertinya juga khawatir, dia memiliki ekspresi yang rumit saat dia menatapku dengan serius.

Jelas bukan itu masalahnya.

"Tidak, itu lebih seperti 'Aku tidak peduli lagi'. Aku telah belajar bahwa banyak hal dapat terjadi dalam kehidupan. Jadi aku memutuskan untuk menyerah dan menerima poin yang tidak masuk akal dan irasional itu. Dengan cara yang positif, Hanya itu. ”(Makoto)

"Untuk menyerah... Menyerah dengan cara yang positif adalah perilaku yang bagus. Fumu." (Tomoe)

"Aku tidak akan mempertanyakan apa yang kau pahami, tapi, kau akan melakukan penyelidikan juga, kan Tomoe?" (Makoto)

“Tentu saja, Aku akan menemanimu. Lagipula, di tempat itu, ada... '' (Tomoe)

"Ya..." (Makoto)

"Objek buatan manusia." (Tomoe)

“Objek buatan manusia.” (Makoto)

Suara Tomoe dan aku saling tumpang tindih.

              


Pada akhirnya, selain aku dan Tomoe, Mio dan Shiki bergabung dengan kami dalam penyelidikan.

Semua pengikut.

Aku sedang berpikir tentang mencari bunga sakura, tetapi itu telah digantikan oleh perjalanan panjang dengan teleportasi berulang-ulang selama sekitar 30 menit.

Karena itu dalam arah yang telah diperluas dan belum dieksplorasi, kami menyamai kecepatan Shiki yang merupakan yang paling buruk dalam teleportasi, dan akhirnya memakan waktu 30 menit.

Tidak ada keraguan bahwa ini lebih seperti pergi piknik untuk kami, tetapi untuk Shiki, sepertinya itu cukup sulit.

Yah, kami telah tiba dekat dengan lokasi dan objek buatan manusia terlihat, jadi dengan mempertimbangkan pemulihannya, kami berjalan menuju tujuan.

"Seperti biasa kau benar-benar tidak terampil dalam teleportasi-ja na." (Tomoe)

Tomoe membuat ekspresi takjub pada Shiki yang memiliki wajah pucat pasi saat dia berjalan dengan nafas kasar.

"Meskipun kita sudah teleport begitu pelan, kamu masih berakhir seperti ini." (Mio)
Mio tidak membuat semuanya lebih mudah baginya.

Tidak hanya itu, dia pergi dan mengacuhkannya.

Pernapasan kedua orang ini masih normal, dan mereka sepertinya tidak merasa kesakitan.

Aku juga sama. Hanya Shiki yang sangat kelelahan.

Bahkan saat aku mengirimnya kekuatan sihir dan mempercepat pemulihannya, dia masih terlihat seperti sedang kesakitan.

"Mohon maaf. Sudah lama sejak aku melakukan teleportasi jarak jauh berulang-ulang, jadi itu adalah kelalaianku. "(Shiki)

Sejak Shiki bisa bolak-balik antara Asora dan dunia luar, dia tidak pernah menggunakan teleportasi jarak jauh sebanyak itu.

Dia menggunakan Asora sebagai perantara untuk melompat ke titik teleportasi.

Aku pada dasarnya juga melakukan hal yang sama dengannya.

Karena cara itu lebih mudah.

Ada juga fakta bahwa dari awal Shiki belum begitu mahir dalam teleportasi, dan saat dia mencapai tingkat di mana dia merasa ada ketidaknyamanan, dia tidak melakukan banyak latihan dalam teleportasi jarak jauh lagi.

Aku bertanya apakah dia bisa memberikan kekuatan seperti itu ke cincin, tapi sepertinya kekuatan cincin bukanlah sesuatu yang dia ciptakan, tapi sesuatu yang sudah ada di sana. Tidak ada cincin yang kosong, Dan juga, tidak ada cincin dengan kekuatan teleportasi.

Kekuatan Shiki yang mampu menampilkan berbagai kemampuan memiliki kekurangan yang tak terduga.

"Jika terlalu sulit untuk berjalan, Tidak apa-apa untuk beristirahat sebentar, tahu." (Makoto)

"Tidak, Aku... baik-baik saja. Aku sudah menerima kekuatan sihirmu, Jadi... Aku akan pulih... tepat waktu... ”(Shiki)

"Aku mengerti. Aku hanya ingin tahu tapi, seberapa lelah yang kau rasakan saat ini?” (Makoto)

Dia tampak seperti sedang kesakitan, namun, Sepertinya dia bisa berjalan dengan benar, jadi aku mencoba bertanya karena penasaran.

Yah, Mata Shiki berkobar dengan rasa ingin tahu pada hal yang kita tuju, jadi dia mungkin akan memaafkanku karena menanyakan ini.

Keingintahuan adalah hal yang luar biasa.

Karena meskipun kami memberi tahu Shiki bahwa itu jauh, dia bersikeras untuk ikut.

"Sebagai contoh... Aku merasa seperti, Aku... lari... 30 menit... dengan kecepatan penuh." (Shiki)

"Ah, Aku paham." (Makoto)

Kau akan mati karenanya.

Aku tidak bisa membayangkan berlari 30 menit dengan kecepatan penuh.

Lagipula, Apakah teleportasi ruang adalah sesuatu yang akan menyebabkan kelelahan fisik?

Karena nafasku tidak pernah kacau saat aku menggunakan teleportasi.

“Kenapa kau membual tentang kelelahanmu pada Waka? Apa kau idiot?'' (Mio)

"Tidak, Mio. Akulah yang bertanya."(Makoto)

“Tidak Waka-sama. Kita sudah mencocokkan kecepatan kita dengan kecepatan Shiki dan bergerak perlahan, namun, orangnya sendiri malah membual tentang kelelahannya? Itu adalah definisi dari seorang idiot-desu wa.” (Mio)

Dari awal Shiki bahkan tidak membual.

Nafasnya hanya berantakan dan warna wajahnya memucat, itu saja.

"Be-Benar juga, Sekarang aku berpikir tentang itu, Mio, Apakah ada semacam kelelahan fisik saat menggunakan mantra teleportasi ruang? Ini pertama kalinya aku mendengar tentang itu. "(Makoto)

Mengubah topik, Aku berpindah arah dari Shiki.

“Umm… Aku belum pernah merasakannya. Kupikir itu akan baik-baik saja selama kamu menggunakannya pada level yang benar?”(Mio)

Kau pikir?

Mio menggunakan sihir secara naluriah, jadi sulit untuk menggunakannya sebagai referensi ya.

Setidaknya, Sepertinya dia belum merasa kelelahan.

Juga, dalam kasus Mio, staminanya sangat luar biasa, sehingga membuatnya lebih sulit untuk dikatakan.

“...Jangan mengajarkan sesuatu yang setengah matang ke Waka. Waka, sihir teleportasi ruang biasanya mengkonsumsi stamina dan kekuatan sihir yang sesuai dengan jaraknya. Teleportasi ke dan dari Asora adalah kasus yang berbeda. ”(Tomoe)

"Aku mengerti. Aku benar-benar belum pernah merasakannya."(Makoto)

"EH... EEEEEH?!" (Shiki)

Ah, Shiki menatapku dengan wajah penuh keputusasaan.

'Eh'mu kepanjangan.

Oh, Aku merasa dia ditarik kembali.

“Dari awal Waka memiliki stamina yang banyak, dan Anda selalu memiliki penguatan tubuh gilamu yang diaktifkan, jadi tidak akan ada gunanya menggunakan orang lain sebagai referensi.” (Tomoe)

"Gila, katamu." (Makoto)

“Sayangnya, Itulah kenyataannya. Aku tidak berpikir akan ada hari dimana Anda akan mengajarkan sihir teleportasi ruang kepada orang lain, Tapi jika kesempatan itu datang, Aku menyarankan Anda untuk terlebih dahulu membaca beberapa buku mengenai subjek sehingga Anda dapat mempelajari akal sehat di baliknya. ”(Tomoe )

"…Aku akan melakukannya. Terima kasih. "(Makoto)

Apa-apaan ini?

Aku mencoba untuk membantu Shiki dengan mengubah topik, Tapi sekarang malah aku yang merasa depresi.

“Formasi teleport mengurangi konsumsi stamina dan kekuatan sihir, jadi itu dalam kisaran untuk penggunaan praktis. 'Menggunakannya dengan terampil dan itu akan baik-baik saja' seperti yang dikatakan Mio itu tidak mungkin, Tetapi mungkin untuk mengurangi konsumsi stamina dengan meningkatkan tubuhmu. ”(Tomoe)

"Apa, Maka Shiki bisa melakukan itu." (Makoto)

“Waka, Shiki sudah menggunakan 4 cincin dan masih berakhir seperti ini. Itulah Shiki."(Tomoe)

"..." (Makoto)

Shiki tidak menunjukkan tanda-tanda menanggapi kata-kata Tomoe dan terus saja menundukkan kepalanya dan berjalan dengan sedih.

Sekarang Aku perhatikan dengan teliti, dia memakai cincin penguatan yang dia gunakan untuk pertempuran.

Kapan dia...

Dia sudah memakai semua itu dan masih merasa seperti berlari dengan kecepatan penuh selama 30 menit.

“Yah, dengan ini sebagai pelajaran, Aku tidak mau tahu apakah kau yang tidak mahir dalam teleportasi atau apa, tapi kau harus melatihnya-ja na. Apa gunanya seorang pengikut jika pada akhirnya dia malah menimbulkan masalah pada tuannya-ja. "(Tomoe)

...

Tidak Tomoe, Coba ucapkan kata-kata itu kembali padamu beberapa kali.

Beberapa hari yang lalu, Kau menanyakan hal-hal seperti: 'Di mana kota  
Asuka?' dan mulai mengajukan pertanyaan tentang sejarah dan arkeologi yang tidak ada kaitannya dengan samurai dan sudah melampaui batas yang diketahui oleh seorang siswa sekolah menengah.

Mana mungkin aku tahu.

Aku ingin bilang: 'Bukankah di suatu tempat di Nara?'

Sepertinya Nara tua memiliki banyak pertempuran, jadi pada periode itu, tidak aneh jika beberapa kota metropolis Asuka ada di masa perang itu.

Seberapa jauh kau berencana menggali sejarah Jepang?

Sungguh kecintaan yang menakutkan pada Edo.

Bahkan aku belum pernah menggalinya, dan aku tidak tahu banyak tentang hal itu.
Jika itu adalah peristiwa sebelum periode Edo, Aku mungkin memiliki sedikit lebih banyak pengetahuan daripada orang biasa.

Namun, Tomoe tertarik pada era perang kecil yang merepotkan.

Pada masa itu, mereka sering membakar banyak benda, dan dokumen sejarah yang hilang sungguh luar biasa. Artinya, kemungkinan besar periode itu diselimuti kegelapan bahkan bagi orang Jepang.

Pengetahuanku sangat kecil hingga bisa ditertawakan.

"Waka?" (Tomoe)

“Hm? Maaf, Aku sedang berpikir. "(Makoto)

“Ah, Maaf karena mengganggu. Apa itu mengenai bangunan yang ada disana itu?'' (Tomoe)

Bahkan dengan semua itu, Tomoe selalu tetap tenang.

Apalagi setelah benda buatan manusia ini tiba-tiba muncul di Asora.

Ada beberapa bangunan.

Aku telah mengkonfirmasi wujudnya dengan mataku.

Aku juga sudah selesai menangkap detailnya dengan [Sakai].

Ketika aku mencoba menggunakan kekuatan sihir untuk persepsi, rasanya seolah-olah tempat itu adalah ruang kosong tanpa ada apa-apa di sana.

Tapi ketika aku melihatnya dengan mata telanjang, atau saat aku menggunakan [Sakai] untuk melihatnya, Itu jelas ada disana.

Mungkin ada jenis penghalang khusus yang ditempatkan di dalamnya.

Ini adalah tempat yang tidak aneh jika itu terjadi.

“Ya, itu juga.” (Makoto)

“Waka-sama, Apakah itu baik-baik saja-desu ka? Itu sudah menggangguku dari tadi, tapi apa itu? ”(Mio)

Mio menunjuk lurus.

Apa yang dia tunjuk bukanlah bangunan yang berjarak beberapa kilometer jauhnya.

Itu adalah 'gerbang' yang biasa ku lihat.

Kupikir itu tidak ada kaitannya dengan Samal.

Itu terlihat seperti gapura kuil Shinto raksasa.

Tidak mungkin aku akan salah mengartikan bentuk itu, itu jelas-jelas merupakan gapura kuil Shinto.

Dari sana, Itu mengarah ke jalur hutan.

"Itu adalah gapura kuil Shinto, Mio." (Makoto)

"Gapura?" (Mio)

“Sudah kuduga! Itu sebuah gapura, Waka?! Woah, Ini pertama kalinya aku melihatnya langsung-ja! Dengarkan baik-baik Mio, Itu adalah gerbang menuju kediaman seorang Dewa. Kau tidak boleh jalan tepat di tengah, mengerti? Dan setelah itu, kau...” (Tomoe)

Tomoe dengan semangat memberi tahu Mio tentang berbagai etika.

Mio membuat wajah berkata: 'Aku mengacau', tapi itu sudah terlambat.

Dia tertangkap dengan baik oleh Tomoe.

Dia diajari berbagai hal seperti: cara melewati gapura, cara membersihkan tangan, dan cara memberi penghormatan.

Untuk beberapa alasan, dia bahkan mulai menjelaskan metode yang bukan metode umum, seperti Kuil besar Izumo.

Biasanya hanya 2 kali membungkuk, 2 kali tepukan, membukuk sekali lagi. Dengan semua informasi itu, Kau hanya akan membuatnya bingung.

Kalau kau mau menjelaskan lebih jauh, daripada yang 4 tepukan, akan lebih baik untuk mengajarinya metode 8 tepukan yang bisa dipakai bahkan di festival-festival besar.

Kebanyakan orang Jepang tahu tentang itu, tapi tidak mungkin Mio yang hidup di dunia lain akan tahu, dan bahkan jika dia tahu itu, Aku tidak berpikir dia akan bisa mengatakan bahwa ada arti dibaliknya.

Ketika kita tiba di gapura, mari kita ajarkan Mio dan Shiki cara untuk memberi penghormatan yang sederhana.

"Seperti yang diharapkan, Tidak akan ada keraguan jika itu adalah apa yang Waka-sama katakan?" (Shiki)

Aku mengangguk pada Shiki yang akhirnya pulih.

"Kelihatannya begitu. Itu masih jauh, Tapi jika ada gapura itu berarti pasti ada jalan menuju kuil”(Makoto)

"Jalan menuju kuil?" (Shiki)

"Ah maaf. Aku mengatakannya secara sederhana...'' (Makoto)

Sepertinya kita tidak perlu menunggu di depan gerbang, jadi tidak apa-apa untuk memberi mereka penjelasan kasar tentang itu.

Jika mereka ingin belajar lebih detail tentang itu, mereka bisa menjadi korban Tomoe- maksudku, muridnya.

“Itu artinya kita akan memasuki kediaman seseorang yang berpengaruh di kuil Shinto. Yah, anggap saja jalan menuju kuil  untuk berdoa.”(Makoto) 

  -TLN: Kuil [italic] = (Temple) Kuil Budha, Sedangkan Kuil [biasa] = (Shrine) Kuil Shinto

Kuil… Jadi kuil Shinto benar-benar sebuah bangunan dengan tujuan semacam itu. Citra Dewa di Asora tidak begitu bagus… ”(Shiki)

“Ada pengecualian, Tapi anggap saja itu sebagai kuil yang sangat tua. Kita hanya harus menantikan apa yang akan kita lihat di sana. Tapi kurasa tidak perlu terlalu tegang tentang itu." (Makoto)

“Sebuah kuil tua, Aku merasa seperti kata-kata itu sendiri sudah bertentangan dengan diri mereka sendiri. Sebuah kuil tua. Itu adalah kata-kata yang tidak bisa dimengerti seperti ketika mencoba mendeskripsikan Waka-sama.” (Shiki)

Sepertinya gambaran yang ku berikan pada Shiki membuatnya semakin bingung.

Apa itu benar-benar sulit dimengerti?

Kupikir itu berjalan dengan baik.

Yah, mari kita biarkan dia.

Benar. Objek buatan manusia yang muncul di Asora adalah... sebuah kuil Shinto.

Ini hanya kemungkinan, tapi kupikir tidak ada keraguan bahwa ini adalah hadiah lain dari para Dewa.

Kuil Shinto sebagai hadiah dari Dewa... hanya mengatakan itu terasa nyata.

Selain itu, beberapa bangunan telah muncul juga di petak yang luas ini, sehingga membuatnya cukup saat ini.
Pandangan penuh terhalang oleh hutan, jadi tidak semuanya terlihat.

Jujur saja, bahkan ketika aku telah menangkap semua detailnya dengan [Sakai], aku masih tidak tahu apa ini kecuali aku berkeliling memeriksanya sendiri.

Kami maju ke arah gapura raksasa yang tidak dilapisi vermillion dan sepertinya terbuat dari batu.